
Pada perayaan menyambut dilaksanakannya ibadah puasa, ibadah wajib bagi orang muslim selama satu bulan penuh. Mulai masuk area alun-alun mata anmda akan disuguhi arak-arakaan barnongsai yang dimainkan oleh anak-anak. Kalau biasanya naga yang dimainkan berwarna merah, kali ini sang naga berwarna hitam. Ada Juga pementasan barongan. Barongan ini adalah kesenian khas Demak, berasal dari daerah-daerah pantai. Barongan khas Demak meskipun ada kesamaan dengan barongan-barongan lain yang pernah ada tetapi tetap memiliki khas sendiri. Barongan yang biasa di tanggap saat acara sunatan itu menari sangat indah di bawah matahari yang tinggal hitungan menit akan tenggelam.
Untuk menyambut Ramandhan setiap daerah memiliki tradisi masing-masing, jika kota Semarang memiliki tradisi yang bernama dugderan, kudus bernama dandangan, kalau kota Demak memiliki nama megengan. Saya kira kata megengan dari alat bunyi bedug yang dipukul terus menerus sehari sebelum ibadah dimulai sebagai petanda sekaligus pengumuman bahwa ibdah puasa ramandhan akan segera dimulai. Di kampung-kamung di daerah Demak megeng tadi biasa dilaksanakan oleh anak-anak dengan suka ria sehari sebelum ramandhan setelah ashar.
Pada saat Sore hari berbagai makanan dijajakan, tidak saja makanan tetapi juga mainan anak-anak, di salah satu sudut lapangan para remaja asyik bermain skateboard menandai bahwa budaya gaul telah masuk juga di kota ini, disudut yang lainnya anak-anak kesana kemari bermain sepatu roda. Sore itu di alun-alun memang menunjukkan bahwa Demak adalah kota dengan penduduk yang beragam. Di salah satu sudut terlihat berjejer muda-mudi saling menggoda, banyak juga perempuan-perempuan cantik berpakaian seksi, tapi juga tidak kalah banyak santri-santri berkerudung bersarung ke sana-kemari. Memang di sekeliling masjid Demak banyak berdiri pondok pesantren.
Oh ya, tapi saya belum menemukan penjaja sate keong yang konon banyak dijajakan dan menjadi ciri megengan di setiap tahun. Kenapa keong? Sayapun belum mendapatkan jawaban pasti. Mungkin karena masyarakat agraris. Demak selain berpenduduk sebagai nelayan juga banyak yang sebagai petani sedangkan keong banyak hidup di sawah-sawah di Demak.
Kemarin saya baru saja menghadiri acara peluncuran buku yang kebetulan dilaksanakan di Kedai Mama, kedai milik sejarahwan kota Semarang Yongki Tio, di kedainya kamipun sempat bertegur sapa. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh budayawan kota Semarang Djawahir Muhamad. Kalau ada orang mau bertanya-tanya tentang kota Semarang masa lalu atau tentang budaya Semarang, tanyakan saja kepada kedua orang ini. Melihat dua orang ini saya jadi cemburu. Kepada siapa saya yang masih muda ini jika ingin bertanya tentang sejarah Demak dan budaya Demak secara lebih dalam, lebih detail selain yang sudah ada di buku-buku? Siapa orang Demak yang pengetahuannya tentang Demak melebihi siapapun.
Saya berkeyakinan Demak memiliki sejarah dan budaya yang tidak kalah keren dibanding dengan daerah lain. Melalui sungai mana kira-kira kapal-kapal kerajaan Demak keluar menuju laut? Juga perlu keberanian menetapkan dimana letak kerajaan Demak, dan jika pada suatu ketika terjadi kesalahan tidak jadi soal karena dapat diperbaiki.
Apasih yang kurang di Demak ini? Tidak ada yang kurang, tetapi jika ingin budaya dan sejarah Demak lebih termaknai perlu adanya penelusuran sejarah dan pengembangan tradisi ilmiah di kota yang memiliki sore yang romantis ini. Kelompok diskusi dan penguatan perguruan tinggi di kota ini harus di dorong untuk tumbuh dengan optimal.
Demak adalah tempat yang eksotis dan tidak hanya memiliki belimbing dan jambu air. Demak memiliki warisan budaya yang khas. Demak memiliki cerita-cerita rakyat, lagu-lagu rakyat. Dengar saja indahnya pujian setelah adzan. Atau irama-irama berzanji di pengajian yasin setiap kamis malam. Harus ada upaya dokumentasi terhadap hal itu semua kalau tidak mau kehilangan.
Masuklah sedikit ke perkampungan jika kamu beruntung akan menyaksikan mushola unik, mushola model lawas seperti rumah panggung dengan bahan kayu jati yang papannya tidak rata. Inipun tidak lama lagi akan hilang. Maka saya memimpikan ‘Kampung Demak’. Kampung Demak yang saya impikan adalah sebuah kampung wisata yang menyajikan budaya Demak. Kampung ini akan sangat menarik jika ditempuh melalui sungai menggunakan perahu. Wisata sungai di Demak sangat memungkinkan karena di Demak sangat banyak sungai. Di kampung itu juga berdiri bangunan rumah Demak masa lalu plus langgar panggung yang eksotis. Rebana dan lagu-lagu lawas yang berisi wejangan bisa juga dipertontonkan di kampung ini. Tentu saja baju sorjan bisa digunakan sebagai ciri khas dan keharusan jika pengunjung mau masuk kampung, jambu air, dan belimbing bisa dibuat wisata kebun.
Oh saya melantur sampai mana-mana. Suara tarkhim dari masjid agung telah mengalun, tidak lama lagi adzan magrib berkumandang. Tapi para remaja masih asyik pacaran, penjual dan pembeli masih aktif bertransaksi di bawah tulisan asmaul husna yang mengelilingi alun-alun sampai adzan selesai dikumandangkan. Aktifitas masih berlangsung biasa, mereka entah sholat magrib dimana, dan kapan saya tidak tahu. (Muhajir Arrosyid).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar